HC – Bila dalam perusahaan ada wacana mengenai cost center dan profit center, beberapa divisi tentu akan merasa sedikit kecil hati, karena dianggap sebagai cost center dan bukan breadwinner perusahaan. Misalnya saja, divisi IT yang hampir eksis di setiap perusahaan, meskipun jasanya tidak sedikit, biasanya dianggap sebagai “orang belakang”, karena kontribusinya tidak langsung terlihat dalam mencetak keuntungan. Bagaimana dengan divisi sumber daya manusia? Jelas-jelas dalam neraca, cost terbesar dari perusahaan adalah gaji. Bahkan, tak jarang biaya sumber daya manusia bisa mencapai 65 persen dari keseluruhan biaya perusahaan.
Tentunya, tidak mungkin biaya-biaya pengembangan sumber daya manusia, mulai dari gaji, rekutmen, training, dan fasilitas karyawan dimasukkan dalam profit center, bukan? Dengan kondisi ini, di mana letak HRD (Human Resource Development)? Apakah lebih dipandang sebagai “beban”? Atau, sudah berperan sebagai “pahlawan” penggerak produktivitas? Dengan besarnya biaya yang dikelola oleh divisi HRD, kita tentu berharap divisi ini bisa secara nyata memberi, bahkan melipatgandakan “keuntungan” yang telah dikeluarkan, bagi kemajuan individu dan pertumbuhan organisasi.
Di satu sisi, semua orang setuju bahwa “manusia adalah aset terbesar perusahaan”. Tanpa manusia, perusahaan tidak akan jalan. Mari kita evaluasi, apakah divisi HRD di organisasi kita sudah diperlakukan sebagai pusat strategi perusahaan? Apakah perusahaan meletakkan kebijakan dan strategi pengembangan sumber daya manusia di atas strategi dan manuver lain? Apakah dalam visi pimpinan perusahaan digambarkan tipe manusia dan perilaku manusianya di 10 tahun mendatangnya? Bagaimana bisa menjamin inovasi, pengembangan ketrampilan, dan pengetahuan bila divisi HRD hanya dianggap sebagai divisi yang mengurus ketertiban, gaji, dan kenaikan pangkat?
Betapa kita sering mengalami, seorang yang sedang berada di kelas pelatihan, “dipaksa” meninggalkan kelas karena urusan urgent menyangkut soal bisnis. Bukankah pelatihan juga sering dianggap sebagai upaya menghabiskan budget di akhir tahun dan bukan sebagai upaya utama di awal tahun? Kita juga bisa melihat bahwa ketidakmampuan manajer untuk melakukan coaching tidak dianggap sebagai hal yang krusial untuk diperbaiki dibandingkan dengan menghasilkan angka penjualan. Apa yang menyebabkan pernyataan dan keyakinan bahwa “manusia adalah aset terbesar di perusahaan” sering tidak dibarengi dengan sikap terhadap pengembangan SDM-nya sendiri?
- Manusia pencipta “values”
Sudah demikian banyak teori manajemen dan pemasaran yang menekankan pentingnya menciptakan value dalam bisnis, bila kita tidak mau tergilas. Kita sendiri pasti juga menghargai betapa hasil pemikiran yang sekarang sering disebut sebagai software dihargai dengan mahal. Sepintar-pintarnya komputer, kita sendiri sangat sadar bahwa yang mengadakan inovasi dan manuver baru tetap manusia. Berarti manusia adalah value-producing asset yang perlu menjadi fokus bisnis dan bukan dianggap sebagai beban. Ini tentu prinsip yang senantiasa perlu dipegang dan diterjemahkan dalam strategi, sistem, prosedur, inisiatif, dan perilaku sehari-hari, tidak hanya oleh divisi HRD, tetapi juga oleh pimpinan perusahaan dan para manager. Kita pun perlu senantiasa mengecek dan mengevaluasi, apakah perusahaan dan HRD sudah berhasil menciptakan values dari manusia yang ada.
Kemampuan organisasi berkreasi, mencari jalan lain yang berbeda dengan yang “biasa”, hanya mungkin dilakukan oleh SDM yang “tidak biasa”. Inilah pekerjaan divisi HRD. Para eksekutif di divisi HRD perlu tahu apa visi dan masa depan perusahaan dan sekaligus perlu sering memantau perkembangan kondisi manusia di lapangan, sehingga bisa membentuk dan mengasah manusia di organisasi, demi masa depan tersebut. Eksekutif HRD harus bisa membuktikan bahwa mereka betul-betul serius menjadi “strategic partner” yang paling utama dari manajemen puncak perusahaan. Berpikir strategis ke masa depan dan sekaligus menerjemahkan strategi ke dalam tindakan pengembangan yang efektif. Sudah tidak masanya lagi divisi HRD hanya berfokus mengurus administrasi personalia karyawan. Divisi HRD memang harus diisi oleh orang-orang yang profesional dan ahli, serta memiliki “passion” terhadap people dan juga bisnis, karena para ahli human capital ini perlu me-“re-engineer” business process dan aktif mendengarkan aspirasi karyawan, sehingga komitmen dan kapabilitas karyawan tersalur dengan positif.
- Bukan “embel-embel”
Bila ada karyawan bermasalah, baik itu kinerja maupun sikap kerjanya, tak jarang yang ditunjuk bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah ini adalah HRD, bukan? Berapa banyak orang yang masih berpandangan divisi HRD ibarat guru BP (Bimbingan Penyuluhan) yang ada di sebuah sekolah menengah? Jika HRD masih semata dituntut untuk berkutat menerapi atau memberi rasa “comfort” kepada karyawan, tentu saja perusahaan akan segera memanen masalah, baik itu moral dan produktivitas, karena fungsi penting HRD modern tidak dijalankan.
Perusahaan dan karyawan, perlu sadar bahwa divisi HRD tidak bisa hanya berpikir “here and now” saja, tapi perlu jeli untuk meramalkan kebutuhan manusia dalam menjawab tantangan bisnis berpuluh tahun ke depan. Dengan demikian, yang diciptakan bukan sekadar kekuatan sumber daya manusia, tetapi justru kekuatan intelektual dan mental manusianya. Kita tahu, menurut Dave Ulrich, peran HRD yang perlu diperkuat di organisasi adalah menjadi “change leader”.
Namun, tentu saja HRD sendiri pertama-tama perlu bisa menggerakkan dan menjalankan perubahan di tubuhnya sendiri lebih dulu. Bila dulu manajemen bisa dipuaskan dengan program-program training dan rekrutmen yang dikelola oleh divisi HRD, sekarang perlu dihasilkan adalah kekuatan hubungan interpersonal dan spirit manusianya. Bila dulu substansi yang digarap adalah disiplin, tunjangan, atau remunerasi karyawan, di masa sekarang tuntutannya adalah mengelola mindset dan prespektif karyawan. Tanpa terobosan, cara-cara baru dan perubahan, mustahil peran ini bisa dimainkan dengan optimal. Bila divisi keuangan sering dianggap sebagai urat nadi perusahaan, kini saatnya divisi HRD membuktikan peran sebagai “otak” perusahaan dan bukan lagi sekadar beban dan embel-embel di perusahaan.
• disadur dari tulisan Eileen Rachman & Sylvina Savitri
EXPERD






6QjLIM , [url=http://mtyorhzjywar.com/]mtyorhzjywar[/url], [link=http://gbexxvrmwvda.com/]gbexxvrmwvda[/link], http://anpzejmtofmm.com/
Ked46q jfjlyzavfawp
oZOrG6 , [url=http://jxajzbonmipw.com/]jxajzbonmipw[/url], [link=http://qfeqzihgiwxp.com/]qfeqzihgiwxp[/link], http://uorkvudvpmyg.com/
kmrEvt mhqmoyrkdhla
Unbelievable how well-wtriten and informative this was.
CfmEzy , [url=http://mzioxzqvrbvr.com/]mzioxzqvrbvr[/url], [link=http://ueafppnzwocj.com/]ueafppnzwocj[/link], http://tcdosjuytloi.com/
xPwlTu , [url=http://opxiszkcnyjt.com/]opxiszkcnyjt[/url], [link=http://pfkrighghddo.com/]pfkrighghddo[/link], http://weczpozszwdz.com/
And I thought I was the sensible one. Thanks for setting me srtagiht.
aIdN6U hadzxkrdmprn
With the bases laoedd you struck us out with that answer!
Thank you so much for this arictle, it saved me time!
I don’t know who you wrote this for but you hpeled a brother out.