HC – Di satu pihak kita sangat memahami bahwa seseorang pasti ingin lolos seleksi. Di lain pihak, kita bisa merasakan beratnya upaya organisasi untuk menemukan kecocokan pribadi dan kompetensi seseorang dengan jabatan yang akan diisi. Kita semua tahu istilah putting the right man in the right place. Namun, kita pun sangat menyadari bahwa keadaan yang ideal ini sulit dicapai. Pewawancara sangat terbantu bila individu berani untuk transparan, terbuka. Bagi orang yang diwawancara, tidak ada pilihan lain yang lebih baik, kecuali “showing your color” alias menunjukan kolor karakter asli Anda.
Dosa besar dalam situasi seleksi adalah kalau dalam waktu evaluasi yang begitu singkat, justru individu tidak berkesempatan menampilkan keasliannya sehingga si pewawancara pun tidak bisa menangkap kekuatannya. “Be yourself” bagaimana yang perlu kita tampilkan ?
- Rileks
Dengan rileks kita baru bisa menampilkan sisi terbaik kita. Bagaimana orang lain bisa mengenal diri kita lebih jauh, bila kita tidak memperbolehkan orang lain untuk masuk ke diri kita lebih dalam? Kondisi rileks sebetulnya perlu kita biasakan dan latih dalam situasi sehari-hari, tidak hanya dalam konteks interview saja. Cukup sering orang yang tegang dalam berhadapan dengan interview. Bentuknya bermacam-macam, misalnya terlalu kaku pada aturan, disiplin tanpa toleransi, sehingga yang tampil malah kekakuan dan ketidakwajaran. Tentu kita yang rugi bila dalam proses seleksi, kita begitu berjarak sehingga informasi yang diperoleh orang lain tentang diri kita pun dangkal. Kitalah yang sepenuhnya bertanggung jawab untuk menyajikan informasi yang dibutuhkan oleh orang lain untuk mengetahui kekuatan kita.
Berkarakter transparan dan terbuka di zaman sekarang kita lihat semakin menjadi tuntutan. Kita tentu heran, bila dalam pergaulan, seseorang tidak memeberikan akses pribadinya, seprti facebook atau twitter. Rileks tentu sangat berbeda dengan berkepribadian selebor, asal-asalan, bahkan tidak peduli pada norma masyarakat. Orang yang rileks bisa menolak untuk melakukan hal yang malanggar norma dan prosedur tanpa harus berkonfrontasi. Orang yang rileks tetap berdisiplin dengan waktu dan bisa tertib mengatur busana sesuai keperluan tanpa perlu “jaim” berlebihan. Kita tahu bagaimana kondisi rileks menyebabkan seseorang jadi punya energi lebih untuk menahan diri bila merasa tersinggung oleh kata-kata atau ungkapan orang lain, sehingga tanpa terasa ia juga tampil sebagai orang yang terkontrol.
- Lapar dan Agresif
Banyak pencari kerja bersikap “jaim”, menahan diri, takut salah dan terlalu berhati-hati. Justru karena ingin tampil sopan dan penuh aturan, orang lain jadi sulit untuk menangkap energi, semangat, agresivitas dan spirit individu. Padahal energi adalah hal pertama yang ingin dilihat dan “dibeli” dari individu. Sebagai manusia, kita harus selalu ingat bahwa kita adalah sumber energi yang tidak ada habisnya. Energi perlu kita genjot dengan senantiasa menyempatkan diri untuk menggali informasi baru, menangkap kesempatan baru, pekerjaan baru dan tugas baru. Sikap excited inilah yang perlu kita tampilkan.
Sikap seperti orang kekenyangan, merasa pintar, puas diri, tidak butuh informasi, tidak mendengar ataupun tidak bergerak cepat, menunjukan bahwa kita tidak bisa berproduksi dalam waktu yang panjang. Kita sendiri tentu bisa memahami, bila sikap ini kemudian membuat orang tidak berminat bekerja sama dengan kita. Tidak ada salahnya kita tampil sebagai orang yang menguatkan “presence” dan meyakini kesuksesan dan prestasi. Kita pun sah-sah saja bila pun tidak menempatkan diri sebagai object interview tetapi mengambil sikap sebagai subject yang berhak menggali informasi, menjawab pertanyaan dengan imajinasi masa depan yang terang, serta membawa amanah profesi yang kuat.
- Jual Diri
Kita semua menyadari bahwa keahlian, ketrampilan dan kekuatan yang terlipat rapi di dalam diri kita, tidak selamanya bisa dipamerkan setiap saat. Kita beruntung apabila berkesempatan menuliskan Curriculum Vitae atau membuat portofolio yang menarik untuk menjual diri kita. Dalam banyak kesempatan, daftar kekuatan ini pun tidak bisa kita pertontonkan seperti barang dagangan di etalase. Justru kitalah yang senantiasa perlu mencari bahkan mencuri kesempatan untuk mempertontonkan apa yang kita bisa dan menujukan apa yang kita minati, sehingga orang bisa jelas melihat bedanya kita dari orang lain.
Sudah zamannya sekarang setiap orang, apapun profesinya, sadar bahwa dirinyalah yang menjadi agen penjual bagi dirinya sendiri, bukan orang lain. Untuk membuat orang lain mamahami kemampuan kita, kita perlu mampu menganyam presentasi kehlian kita dalam obrolan-obrolan yang ringan tetapi informtif.
Kalau dipikir-pikir, mengapa baru mengemas diri pada saat menghadapi interview atau tes fit & proper? Bukankah aspek-aspek yang baru disampaikan memang wajar dikembangkan setiap individu yang ingin mengembangkan individualitasnya? Bukankah ini juga yang akan membedakan kita dari orang lain dan memberi jaminan bagi kita untuk “survive” dalam situasi sulit begini ?
• disadur dari tulisan Eileen Rachman & Sylvina Savitri
EXPERD





